Postingan

PUISI YANG BERBEDA

Aku masih orang aneh si pembuat puisi itu, yang beda saat ini cuma tidak ada kamu, tidak ada kamu disampingku, tidak kamu dalam setiap bait puisiku, tidak ada kamu dalam pikiranku setiap aku membuat puisi. Dulu setiap pena ini mengurat lembaran kertas kertas, kamu atau namamu, atau apapun tentangmu selalu membuatku menggilai puisi. Melihatmu adalah keindahan yang tertuang dalam sebuah puisi. Aku tidak tau kenapa dulu aku selalu berusaha menulis tentangmu, aku juga pernah menulis sebuah cerita tentang kita dalam sebuah novel, saat itu aku selalu menanti bagaimana akhirnya novel itu. tapi kini aku sudah tau bagaimana akhir dari novel yang pernah aku buat untuk kita itu. yaitu adalah perpisahan, ditinggalkan juga akhir yang menyakitkan. Meski kamu pergi secara tiba-tiba, meski tiba-tiba orang itu bukan aku lagi, aku tidak marah.   Dan hal yang paling menyakitkan adalah aku tidak bisa marah, sejahat apapun kamu. Seharusnya aku marah, atau bahkan seharusnya aku mengutukmu. Sepert...

Tetangga itu

Cinta selalu bertetangga dengan kebencian. ketika cinta   menutup pintunya kebencian membuka pintunya Kebencian selalu menyambut kedatangan seseorang yang kehilangan cinta Jangan salahkan, jangan tanyakan... begitulah tetangga Jika tidak ingin bertetangga dengannya, jangan mengenal cinta Sebab ia hidup berdampingan, dan kebencian siap menyapa mereka yang tak ingin bertamu lagi kepada cinta haruskah di ketuk pintu kebencian itu entah bertanya kemana cinta pergi atau singgah didalam kebencian entah singgah sampai cinta datang atau tinggal selamanya di rumah kebencian. Haruskah menunggu ? Menunggu sampai cinta membuka pintunya kembali ? Entah dengan penguni lama, atau penghuni baru                   Atau bertamu kepada kebencian lalu menunggu Atau menunggu lalu bertamu Tak kan, jangan ketuk pintu kebencian ...