Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Hujan di Sepanjang Hari Dimuara Wajahku

Usiaku tak lagi pagi. Kini usiaku sudah siang. Tapi entah hujan sedari pagi tak juga berhenti meski telah siang. Berawal dari mendung yang tak terbendung lagi kala itu, musim hujan dihidupku tak juga reda. Ia terus deras hingga saat ini. Sesekali memang berhenti, tapi deras lagi. Tidak ada kering, tapi tidak juga sejuk. Mungkin karena terlalu lama hujan. Yang ada hanya dingin yang menyakiti. Ada yang semakin membeku didalam diriku.hujan sepanjang hari dihidupku membuat hatiku beku. Aku khawatir lama lama hatiku bisa pecah.aku berharap mentari datang menghangatkan beberapa jam untukku. Atau paling tidak tidak perlu hujan sepanjang hari lagi. Setiap kali orang bertanya mengapa aku selalu didalam rumah, aku hanya menjawab karena diluar hujan. Mereka hanya tertawa meledekku bercanda. Katanya beberapa bulan sudah tidak hujan. Musim hujan sudah berlalu 3 bulan lalu dan sekarang kemarau datang. Benarkah ? Mengapa hatiku terus beku ? mengapa semuanya terasa dingin ? Bukankah...

Berjalan Serasa Sendiri

Sekarang benar-benar sudah tidak tertolong rasa sepinya,  begitu banyak suara tapi tak mampu memecah sunyiku,  ada banyak orang disekitarku masih juga sendiri perasaanku.  ada begitu banyak problema dunia yang sedang ramai,  tapi aku tak bisa rasakan getirnya. kamu tahu aku sekarang ada dimana ? aku berada dikehampaan.  kamu tidak perlu khawatir, disini bukan neraka. aku masih bisa berjalan dengan tegak, meski jalanan itu sepi kamu percaya atau tidak, sebenarnya jalanannya tidak sepi. mereka banyak berlalu lalang. tapi aku tidak merasakannya kamu tahu kenapa ? aku sendiri..... kamu tahu makna sendiri ? tidak, kamu tidak pernah tau, sebab kamu tidak pernah sendiri kan? sendiri itu bukan kita tanpa seseorang, tapi kita bersama banyak orang tapi tidak merasakan apapun.  aku tidak memintamu untuk mengeluarkanku dari sini, tidak . aku tahu, meski ku meminta kamu tidak akan tahu aku ada dimana. Karena aku telah ber...

PUISI YANG BERBEDA

Aku masih orang aneh si pembuat puisi itu, yang beda saat ini cuma tidak ada kamu, tidak ada kamu disampingku, tidak kamu dalam setiap bait puisiku, tidak ada kamu dalam pikiranku setiap aku membuat puisi. Dulu setiap pena ini mengurat lembaran kertas kertas, kamu atau namamu, atau apapun tentangmu selalu membuatku menggilai puisi. Melihatmu adalah keindahan yang tertuang dalam sebuah puisi. Aku tidak tau kenapa dulu aku selalu berusaha menulis tentangmu, aku juga pernah menulis sebuah cerita tentang kita dalam sebuah novel, saat itu aku selalu menanti bagaimana akhirnya novel itu. tapi kini aku sudah tau bagaimana akhir dari novel yang pernah aku buat untuk kita itu. yaitu adalah perpisahan, ditinggalkan juga akhir yang menyakitkan. Meski kamu pergi secara tiba-tiba, meski tiba-tiba orang itu bukan aku lagi, aku tidak marah.   Dan hal yang paling menyakitkan adalah aku tidak bisa marah, sejahat apapun kamu. Seharusnya aku marah, atau bahkan seharusnya aku mengutukmu. Sepert...

Tetangga itu

Cinta selalu bertetangga dengan kebencian. ketika cinta   menutup pintunya kebencian membuka pintunya Kebencian selalu menyambut kedatangan seseorang yang kehilangan cinta Jangan salahkan, jangan tanyakan... begitulah tetangga Jika tidak ingin bertetangga dengannya, jangan mengenal cinta Sebab ia hidup berdampingan, dan kebencian siap menyapa mereka yang tak ingin bertamu lagi kepada cinta haruskah di ketuk pintu kebencian itu entah bertanya kemana cinta pergi atau singgah didalam kebencian entah singgah sampai cinta datang atau tinggal selamanya di rumah kebencian. Haruskah menunggu ? Menunggu sampai cinta membuka pintunya kembali ? Entah dengan penguni lama, atau penghuni baru                   Atau bertamu kepada kebencian lalu menunggu Atau menunggu lalu bertamu Tak kan, jangan ketuk pintu kebencian ...